Sunday, June 26, 2011

GELISAH = DRAMA ?

Gak ada yang tau gelisah. Gelisah akan ngebuat lo nanyaa mulu. Mempertanyakan segala sesuatu, kenapa ga gini kenapa ga begitu aja toh nantinya begini atau toh nantinya begitu. Entah menjadi gelisah mungkin semakin mengasah ketajaman berpikirnya elo.

Lo mulai menganalisa sesuatu dengan otak kecil lo yang ga lebih gede dari kolor lo sendiri. Trus  abis itu bakal mulai mengajukan ide-ide. Dengan sendirinya mereka seperti tercuat keluar begitu aja , ngebantu kegelisahan lo yang jadinya malah bakal ngakar kemana-mana.

Lalu pertanyaannya muncul pada titik apa yang lo gelisah-kan?

Then you'll come up with the words, Ga ada.

Gelisah itu hanya semacam drama populer. Yang sebenernya lo ciptain sendiri. Dan lo itu adalah tokoh utamanya. Tokoh utama itu seakan-akan lo buat untuk berpikir keras. Patah hati. Menangis tersedu-sedu. Meracau ga jelas. Ga suka makan. Ga usah tidur. Kantong matanya muncul. Rambutnya acak-acakan. Dengan berat badan yang semakin tipis.

Gelisah lalu ngebawa lo buat ngedengerin lagu-lagu mellow hampir pagi. Kemudian tertidur dengan mata bengkak. Apa pula keuntungan yang didapetin pas lo gelisah.

Ga ada.

Di sisi lain, ada sesuatu yang bergerak di dalem hati lo. Ngebuat pikiran lo semakin tajam. Kaya pengen nusuk orang -- sampai berdarah-darah, mecahin kepalanya yang dungu itu, atau malah pengen menghabiskan nyawanya sekalian.

Supaya ga ada lagi hal manis di antara kalian. Supaya anggep aja kalian ga pernah punya sesuatu. Adegan ini kemudian diselesaikan dengan ucapan MAAF yang keluar dari mulut satu-satu.

Seketika itu juga sang sutradara akan meneriakkan “CUT !”

Maka drama populer itu pun selesai. Dengan tokoh yang adalah lo sendiri yang di dalamnya berakhir. Sekarang lo kembali jadi orang biasa, yang ketawa-ketiwi kenceng  sampe perut lo sakit. Mentertawakan pikiran lo sendiri.

Ini cuma drama, kan?

Lo berbisik pelan-pelan sama diri lo sendiri yang pura-pura ga ngedengerin bisikan lo itu.

No comments:

Post a Comment